Kamis, 27 Juni 2013

Makalah - Musik Dangdut


BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Dangdut merupakan salah satu dari genre seni musik yang berkembang di Indonesia dan mengandung unsur-unsur musik Hindustan, Melayu, dan Arab. Bentuk musik ini berakar awal dasar dari Qasidah yang terbawa oleh Agama Islam yang masuk Nusantara tahun 635 - 1600 dan Gambus yang dibawa oleh migrasi orang Arab tahun 1870 - sesudah 1888, kemudian menjelma sebagai Musik Gambus tahun 1930 oleh orang Arab-Indonesia bernama Syech Albar, selanjutnya menjelma sebagai Musik Melayu Deli pada tahun 1940 oleh Husein Bawafie, dan tahun 1950 pengaruh musik Amerika Latin serta tahun 1958 dipengaruhi Musik India melalui film Bollywood oleh Ellya Khadam dengan lagu Boneka India, dan terakhir lahir sebagai Dangdut tahun 1968 dengan tokoh utama Rhoma Irama. Dalam evolusi menuju bentuk kontemporer sekarang masuk pengaruh unsur-unsur musik India (terutama dari penggunaan tabla) dan Arab (pada cengkok dan harmonisasi). Perubahan arus politik Indonesia pada akhir tahun 1960-an membuka masuknya pengaruh musik barat yang kuat dengan masuknya penggunaan gitar listrik dan juga bentuk pemasarannya. Sejak tahun 1970-an dangdut boleh dikatakan telah matang dalam bentuknya yang kontemporer. Sebagai musik populer, dangdut sangat terbuka terhadap pengaruh bentuk musik lain, mulai dari keroncong, langgam, degung, gambus, rock, pop, bahkan house music.

Maksud dan Tujuan

Mengetahui pengertian musik dangdut
Mengatahui sejarah perkembangan musik dangdut
Mengetahu alat-alat musik dangdut
Mengetahui manfaat musik dangdut


BAB II
PEMBAHASAN

 

A.    PENGERTIAN MUSIK DANGDUT

Penyebutan nama "dangdut" merupakan onomatope dari suara permainan tabla (dalam dunia dangdut disebut gendang saja) musik India. Putu Wijaya awalnya menyebut dalam majalah Tempo edisi 27 Mei 1972 bahwa lagu Boneka dari India adalah campuran lagu Melayu, irama padang pasir, dan "dang-ding-dut" India. Sebutan ini selanjutnya diringkas menjadi "dangdut" saja, dan oleh majalah tersebut digunakan untuk menyebut bentuk lagu Melayu yang terpengaruh oleh lagu India.
Dangdut merupakan salah satu dari genre seni musik yang berkembang di Indonesia dan mengandung unsur-unsur musik Hindustan, Melayu, dan Arab. Bentuk musik ini berakar awal dasar dari Qasidah yang terbawa oleh Agama Islam yang masuk Nusantara tahun 635 - 1600 dan Gambus yang dibawa oleh migrasi orang Arab tahun 1870 - sesudah 1888, kemudian menjelma sebagai Musik Gambus tahun 1930 oleh orang Arab-Indonesia bernama Syech Albar, selanjutnya menjelma sebagai Musik Melayu Deli pada tahun 1940 oleh Husein Bawafie, dan tahun 1950 pengaruh musik Amerika Latin serta tahun 1958 dipengaruhi Musik India melalui film Bollywood oleh Ellya Khadam dengan lagu Boneka India, dan terakhir lahir sebagai Dangdut tahun 1968 dengan tokoh utama Rhoma Irama.

B.     SEJARAH DAN PERKEMBANGAN MUSIK DANGDUT

Qasidah masuk ke Nusantara tahun 635 - 1600

Qasidah masuk Nusantara sejak Agama Islam dibawa para saudagar Arab tahun 635, kemudian juga saudagar Gujarat tahun 900 - 1200, saudagar Persia tahun 1300 - 1600 [3]. Nyanyian Qasidah biasanya berlangsung di masjid, pesantren dahwah agama Islam.

Gambus dan migrasi orang Arab mulai tahun 1870

Gambus adalah salah satu alat musik Arab seperti gitar, namun mempunyai suara rendah. Diperkirakan alat musik gambus masuk ke nusantara bersama migrasi Marga Arab Hadramaut (sekarang Yaman) dan orang Mesir mulai tahun 1870 hingga setelah 1888, [4] yaitu setelah Terusan Suez dibuka tahun 1870, pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara dibangun tahun 1877, dan Koninklijke Paketvaart Maatschappij berdiri tahun 1888. Para musisi Arab sering mendendangkan Musik Arab dengan iringan gambus.
Pada awal abad XX penduduk Arab-Indonesia senang mendengarkan lagu gambus, dan sekitar tahun 1930, Syech Albar (ayah dari Ahmad Albar) mendirikan orkes gambus di Surabaya. Ia juga membuat rekaman piringan hitam dengan Columbia tahun 1930-an, yang laku di pasaran Malaysia dan Singapura.

Musik Melayu Deli tahun 1940

Musik Melayu Deli lahir sekitar tahun 1940 di Sumatera Utara bersama Husein Bawafie dan Muhammad Mashabi, kemudian menjalar ke Batavia dengan berdirinya Orkes Melayu [5].

Irama Amerika Latin tahun 1950

Pada tahun 1950, musik Amerika Latin masuk ke Indonesia oleh Xavier Cugat dan Edmundo Ros serta Perez Prado, termasuk Trio Los Panchos atau Los Paraguayos.[rujukan?] Irama latin ini kemudian lekat dengan orang Indonesia. Kemudian berbagai lagu Minang juga muncul bersama Orkes Gumarang, dan Zainal Combo [6].
Dangdut kontemporer telah berbeda dari akarnya, musik Melayu, meskipun orang masih dapat merasakan sentuhannya. Pada tahun 1950-an dan 1960-an banyak berkembang orkes-orkes Melayu di Jakarta yang memainkan lagu-lagu Melayu Deli dari Sumatera (sekitar Medan).

Dari musik Melayu Deli tahun 1940 ke Dangdut tahun 1968


Gendang atau tabla, salah satu alat musik utama dangdut.
Orkes Melayu (biasa disingkat OM, sebutan yang masih sering dipakai untuk suatu grup musik dangdut) yang asli menggunakan alat musik seperti gitar akustik, akordeon, rebana, gambus, dan suling, bahkan gong. Musik Melayu Deli awalnya tahun 1940-an lahir di daerah Deli Medan, kemudian musik melayu deli ini juga berkembang di daerah lain, termasuk Jakarta. Pada masa ini mulai masuk eksperimen masuknya unsur India dalam musik Melayu. Perkembangan dunia sinema pada masa itu dan politik anti-Barat dari Presiden Sukarno menjadi pupuk bagi grup-grup ini. Dari masa ini dapat dicatat nama-nama seperti P. Ramlee (dari Malaya), Said Effendi (dengan lagu Seroja), Ellya (dengan gaya panggung seperti penari India, sang pencipta Boneka dari India), Husein Bawafie (salah seorang penulis lagu Ratapan Anak Tiri), Munif Bahaswan (pencipta Beban Asmara), serta M. Mashabi (pencipta skor film "Ratapan Anak Tiri" yang sangat populer pada tahun 1970-an). Gaya bermusik masa ini masih terus bertahan hingga 1970-an, walaupun pada saat itu juga terjadi perubahan besar di kancah musik Melayu yang dimotori oleh Soneta Group pimpinan Rhoma Irama. Beberapa nama dari masa 1970-an yang dapat disebut adalah Mansyur S., Ida Laila, A. Rafiq, serta Muchsin Alatas. Populernya musik Melayu dapat dilihat dari keluarnya beberapa album pop Melayu oleh kelompok musik pop Koes Plus di masa jayanya.
Dangdut modern, yang berkembang pada awal tahun 1970-an sejalan dengan politik Indonesia yang ramah terhadap budaya Barat, memasukkan alat-alat musik modern Barat seperti gitar listrik, organ elektrik, perkusi, trompet, saksofon, obo, dan lain-lain untuk meningkatkan variasi dan sebagai lahan kreativitas pemusik-pemusiknya. Mandolin juga masuk sebagai unsur penting. Pengaruh rock (terutama pada permainan gitar) sangat kental terasa pada musik dangdut. Tahun 1970-an menjadi ajang 'pertempuran' bagi musik dangdut dan musik rock dalam merebut pasar musik Indonesia, hingga pernah diadakan konser 'duel' antara Soneta Group dan God Bless. Praktis sejak masa ini musik Melayu telah berubah, termasuk dalam pola bisnis bermusiknya. Pada paruh akhir dekade 1970-an juga berkembang variasi "dangdut humor" yang dimotori oleh OM Pancaran Sinar Petromaks (PSP). Orkes ini, yang berangkat dari gaya musik melayu deli, membantu diseminasi dangdut di kalangan mahasiswa. Subgenre ini diteruskan, misalnya, oleh OM Pengantar Minum Racun (PMR) dan, pada awal tahun 2000-an, oleh Orkes Pemuda Harapan Bangsa (PHB).

Interaksi dengan musik lain

Dangdut sangat elastis dalam menghadapi dan memengaruhi bentuk musik yang lain. Lagu-lagu barat populer pada tahun 1960-an dan 1970-an banyak yang didangdutkan. Genre musik gambus dan kasidah perlahan-lahan hanyut dalam arus cara bermusik dangdut. Hal yang sama terjadi pada musik tarling dari Cirebon sehingga yang masih eksis pada saat ini adalah bentuk campurannya: tarlingdut. Musik rock, pop, disko, house bersenyawa dengan baik dalam musik dangdut. Aliran campuran antara musik dangdut & rock secara tidak resmi dinamakan Rockdut. Demikian pula yang terjadi dengan musik-musik daerah seperti jaipongan, degung, tarling, keroncong, langgam Jawa (dikenal sebagai suatu bentuk musik campur sari yang dinamakan congdut, dengan tokohnya Didi Kempot), atau zapin. Mudahnya dangdut menerima unsur 'asing' menjadikannya rentan terhadap bentuk-bentuk pembajakan, seperti yang banyak terjadi terhadap lagu-lagu dari film ala Bollywood dan lagu-lagu latin. Kopi Dangdut, misalnya, adalah "bajakan" lagu yang populer dari Venezuela.

Bangunan lagu

Lagu-lagu dangdut dapat menerima berbagai unsur musik lain secara mudah, meskipun demikian bangunan sebagian besar lagu dangdut sangat konservatif. Sebagian besar lagu dangdut tersusun dari satuan delapan birama 4/4. Jarang sekali ditemukan lagu dangdut dengan birama 3/4, kecuali pada beberapa lagu masa 1960-an seperti Burung Nuri dan Seroja.
Bentuk bangunan lagu dangdut secara umum adalah: A - A - B - A, namun dalam aplikasi kebanyakan memiliki urutan menjadi seperti ini [7] :
Intro - Eksposisi I - A - A - Eksposisi II - B - A - Eksposisi II - B - A - (coda)

Bentuk bangunan lagu dangdut
Urutan bangunan lagu
Keterangan
Intro
Dapat merupakan pembuka pendek sepanjang 2 - 4 birama berupa permainan instrumental atau rangkaian akord pembuka, bisa juga sebagai vokal resitatif (setengah deklamasi) yang mengungkapkan isi lagu dengan iringan akord terurai (broken chord) atau tanpa iringan, atau bisa juga berupa permainan seruling, kemudian masuk ke Eksposisi I atau Vokal.
Eksposisi I atau Tampilan I
Adalah sajian instrumental yang berlangsung sepanjang 4 - 8 birama, dengan instrumen suling, organ, gitar, bahkan sitar atau mandolin secara bergantian. Eksposisi adalah Tampilan kelompok band, berupa aransemen kebolehan band yang disajikan secara khusus untuk memperlihatkan kebolehan. Tampilan I bisa dihilangkan kalau dari Intro langsung masuk Vokal.
Verse A
Biasanya berupa melodi dengan nada rendah dan datar sebagai ungkapan pertama isi lagu atau proposta.
Eksposisi II atau Tampilan II
Berupa sajian yang kedua instrumental kebolehan band, dan Tampilan II harus ada (tidak boleh ditiadakan) dan sebagai penghubung Verse A dengan Verse B, juga instrumental bergantian antara organ, suling, gitar, atau sitar dan mandolin.
Verse B
Biasanya berupa melodi dengan nada tinggi dan berapi-api menjelaskan lebih lanjut isi lagu, atau juga riposta terhadap Verse A. Lirik bagian kedua biasanya berisi konsekuensi dari situasi yang digambarkan bagian pertama atau tindakan yang diambil si penyanyi untuk menjawab situasi itu.
Eksposisi II atau Tampilan II
Diulang lagi, berupa sajian yang ketiga instrumental kebolehan band, dan Tampilan II harus ada (tidak boleh ditiadakan) dan sebagai penghubung Verse A dengan Verse B, juga instrumental bergantian antara organ, suling, gitar, atau sitar dan mandolin.
Verse B
Mengulang dari Verse B sebelumnya, isinya sama persis dengan Verse B sebelumnya.
Verse A
Disajikan sekali lagi untuk menutup lagu, sama persis dengan Verse A sebelumnya.
Coda (optional, boleh dihilangkan)
Di akhir lagu kadang-kadang terdapat koda sepanjang empat birama, namun juga bisa ditiadakan langsung berhenti, atau diakhiri dengan fade away (jarang terjadi).
Lagu dangdut umumnya juga miskin improvisasi, baik melodi maupun harmoni. Sebagai musik pengiring tarian, dangdut sangat mengandalkan ketukan tabla dan sinkop.

Dangdut dalam budaya kontemporer

Rhoma Irama menjadikan dangdut sebagai alat berdakwahnya, yang terlihat dari lirik-lirik lagu ciptaannya serta dari pernyataan yang dikeluarkannya sendiri. Hal ini menjadi salah satu pemicu polemik di Indonesia pada tahun 2003, akibat protesnya terhadap gaya panggung para penyanyi dangdut, antara lain Inul Daratista, yang goyang ngebor-nya yang dicap dekaden serta "merusak moral". Jauh sebelumnya, dangdut juga telah mengundang perdebatan dan berakhir dengan pelarangan panggung dangdut dalam perayaan Sekaten di Yogyakarta. Perdebatan muncul lagi-lagi akibat gaya panggung penyanyi (wanita)-nya yang dinilai terlalu "terbuka" dan berselera rendah, sehingga tidak sesuai dengan misi Sekaten sebagai suatu perayaan keagamaan. Dangdut memang disepakati banyak kalangan sebagai musik yang membawa aspirasi kalangan masyarakat kelas bawah dengan segala kesederhanaan dan kelugasannya. Ciri khas ini tercermin dari lirik serta bangunan lagunya. Gaya pentas yang sensasional tidak terlepas dari napas ini.
Panggung kampanye partai politik juga tidak ketinggalan memanfaatkan kepopuleran dangdut untuk menarik massa. Isu dangdut sebagai alat politik juga menyeruak ketika Basofi Sudirman, pada saat itu sebagai fungsionaris Golkar, menyanyi lagu dangdut.[rujukan?] Walaupun dangdut diasosiasikan dengan masyarakat bawah yang miskin, bukan berarti dangdut hanya digemari kelas bawah. Di setiap acara hiburan, dangdut dapat dipastikan turut serta meramaikan situasi. Panggung dangdut dapat dengan mudah dijumpai di berbagai tempat. Tempat hiburan dan diskotek yang khusus memutar lagu-lagu dangdut banyak dijumpai di kota-kota besar. Stasiun radio siaran yang menyatakan dirinya sebagai "radio dangdut" juga mudah ditemui di berbagai kota.

C.    JENIS-JENIS MUSIK DANGDUT

Beberapa Jenis Musik Dangdut


Dangdut berasal dari suara alat musik gendang yang merupakan ciri khas jenis musik ini yang berbunyi “dang” dan “dut”.
Dangdut berkembang dari akar musik Melayu sekitar tahun 1940 yang kemudian tersentuh unsur musik India dan Arab.
Dalam perkembangannya, musik dangdut terbuka untuk menerima pengaruh dari jenis musik lain, seperti keroncong, rock, pop, house musik, rap, bahkan r n b.
Berikut ini beberapa jenis musik dangdut yang berkembang di Indonesia,

Dangdut Melayu Deli

Sekitar tahun 1950-1960, musik Melayu Deli mewabah di Jakarta yang kemudian terpengaruh unsur musik India yang kemudian menjadi cikal bakal musik dangdut.
Sejumlah tokoh dari jenis musik ini antara lain, Said Effendi dengan lagunya Seroja, Ellya Khadam dengan lagu Boneka India yang diciptakan oleh Hussein Bawafie, M.Mashabi dengan lagunya Ratapan Anak Tiri, Ida Laila, Munif Bahasuan serta P.Ramlee.

Rock Dangdut

Sekitar tahun ’70-an, Indonesia dilanda oleh musik rock dari Barat.
Hal itu mendorong seniman musik dangdut untuk bisa tetap eksis dengan mengikuti perubahan selera masyarakat tanpa menghilangkan unsur pokok musik dangdut. Lahirlah Soneta Group yang dimotori Rhoma Irama.
Berkembangnya jenis musik ini, tak pelak lagi menimbulkan persaingan dengan musik rock dari luar maupun musik rock dari dalam negeri.
Dengan kerja keras yang luar biasa, akhirnya musik rock dangdut ini mampu sejajar dengan musik rock yang ada dalam negeri, baik itu rock dari luar maupun dari dalam.

Dangdut Reggae, Rap-Dut, Dangdut Mandarin, dan Cha-Dut

Sekitar ’90-an, Indonesia kembali dilanda musik dari luar negeri yakni Reggae, Hip Hop, dan Mandarin.
Dan sekali lagi, dangdut menunjukkan kefleksibelannya dengan melebur aliran-aliran musik baru tersebut tanpa menghilangkan unsur asli musik dangdut.
Muncullah Rama Aiphama, dengan dandanan nyentrik khas Reggae yang booming dengan lagu Fatwa Pujangga yang merupakan lagu Melayu yang didaur ulang dengan sentuhan Reggae. Selain Rama Aiphama, muncul pula nama Farid Harja yang booming dengan lagunya Ini Rindu dan Ayam. Ada pula Yopie Latul dengan hitsnya Simalakama.
Kemudian Abiem Ngesti, si ‘Pangeran Dangdut’ yang booming dengan lagu Gadis Baliku yang memasukkan unsur Rap dalam lagunya
Ada juga Anis Marsela dan Merry Andani yang mengusung unsur mandarin dalam lagu dangdut yang dinyanyikan, seperti Yang Sayang, yang dinyanyikan oleh Anis Marsela atau Dinding Pemisah yang dinyanyikan oleh Merry Andani.
Di tahun-tahun inilah, musik dangdut mengalami banyak sekali pengaruh unsur luar, beberapa seniman bahkan ada yang memasukkan unsur Cha-Cha, sehingga muncul aliran dangdut Cha-Cha atau Cha Dut.
Selain itu, muncul pula nama Fazal Dath yang menciptakan lagu-lagu dangdut yang bercampur unsur India modern dengan hitsnya Aku Bukan Hidangan yang dinyanyikan Hetty Soendjaya.
Ada pula Fahmi Shahab dengan hitsnya Kopi Dangdut yang mana unsur Arab banyak mendominasi dalam lagu ini.
Disamping musik dangdut yang sudah tercampur dengan unsur jenis musik yang lain, masih banyak juga seniman dangdut yang eksis dengan lagu-lagu dangdut yang asli tanpa pengaruh luar.
Sebutlah nama Evie Tamala, Elvy Sukaesih, Rita Sugiarto, Ine Cynthia, Imam S.Arifin, Meggy.Z, Hamdan ATT, Itje Trisnawati, Ikke Nurjannah, Camelia Malik, iis Dahlia dan lain-lain dengan single-single dangdut yang tidak kalah booming dengan lagu-lagu dangdut dengan campuran unsur musik lain.
Disamping penyanyi-penyanyi solo, bermunculan pula grup-grup vocal yang terinpirasi dari grup-grup vocal luar seperti, Spice Girl ataupun Boyzone.
Muncullah nama Manis Manja Grup, Trio BAM, Trio Sakera, Sekar Langit dan lain-lain.
Dangdut Etnik pun turut mewarnai dunia musik dangdut pada tahun-tahun tersebut, sebutlah nama Doel Sumbang dengan unsur Sunda, yang hits dengan tembang Kalau Bulan Bisa Ngomong yang dibawakan bersama pasangan duetnya, Nini Karlina.
Ada juga nama Yus Yunus yang memasukkan unsur etnik Madura dalam lagunya yang berjudul Sapu Tangan Merah.

Disco Dangdut, Dangdut Campur dan Dangdut Koplo

Memasuki akhir ’90-an, musik dangdut kembali merambah jenis aliran musik yang lain, yakni disco.
Muncullah Disco dangdut yang mengusung nama Ade Irma dengan hitsnya Kumbang-Kumbang, Ratna Anjani dengan hitsnya Padang Bulan yang sebelumnya pernah juga mencetak hits dan dibawakan oleh Ikke Nurjannah.
Dangdut Campur, dinamakan demikian karena dalam satu lagu terkandung berbagai jenis unsur musik.
Sebutlah lagu Rekayasa Cinta yang dinyanyikan oleh Camelia Malik, ataupun Biarlah Merana yang dinyanyikan oleh Rita Sugiarto, yang mengandung unsur Latin.
Dalam perkembangan selanjutnya, muncullah House Dangdut, yang dimotori oleh Neneng Anjarwati dan Amri Palu. Mereka mendaur ulang lagu-lagu dangdut yang pernah hits kemudian mencampurnya dengan unsur musik house.
Sekitar tahun 2002, Indonesia dihebohkan dengan munculnya Inul Daratista, penyanyi asal Pasuruan, yang kontroversi dengan goyang ngebor nya. Dalam lagu yang dibawakan, musik dangdutnya diaransemen sedemikian rupa dengan variasi gendang yang tidak hanya berbunyi dang dan dut serta cenderung dengan beat cepat. Muncullah nama Dangdut Koplo karena membuat setiap yang mendengar beatnya ingin bergoyang gila-gilaan.
Sebenarnya jenis musik ini sudah mewabah di daerah Jawa Timur sebelumnya, dimana disana sering diadakan pertunjukan musik dangdut dengan aransemen dangdut koplo yang nyatanya menarik minat masayarakat untuk ikut bergoyang mengikuti beat lagunya hingga saat ini.

D.    FUNGSI MUSIK DANGDUT

Dilihat dari fenomena sekarang, dangdut banyak digemari pendukung yang begitu melimpah :
Fungsi yang pertama dan utama adalah sebagai sarana hiburan untuk melepas lelah dan mengendurkan ketegangan dengan berjoget, didukung pula oleh lirik yang mengajak pendengarnya untuk bergembira.
Fungsi yang kedua sebagai sistem proyeksi atas angan-angan terpendam. Cobalah kita simak kisah-kisah dalam lagu dangdut yang bercerita tentang penderitaan, duka lara akibat kemiskinan atau putus cinta.
Fungsi yang ketiga sebagai sarana pendidikan atau penyampai pesan. Di samping lagu-lagu yang menyampaikan duka lara, banyak pula lagu-lagu dangdut yang mengandung misi pendidikan, baik pendidikan yang bersifat rohani-dakwah maupun nasehat untuk berbuat kebaikan. Untuk fungsi ini tidaklah salah kalau kita sebut Rhoma Irama sebagai pelopornya. Sebagai sarana penyampai pesan atau pengumpul massa untuk kepentingan politik, dangdut sangat berperan di dalamnya. Lihatlah kampanye-kampanye menjelang Pemilu yang lalu yang menyelenggarakan panggung-panggung dangdut terbuka di tingkat propinsi hingga kelurahan.


BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN

Kehadiran musik dangdut dalam deretan jenis musik pop di Indonesia cukup meyakinkan untuk mendapat tempat sejajar dengan jenis musik yang lain. Potensinya sebagai jenis musik yang dapat mengemban misi, kehadirannya sering diinginkan pada setiap kesempatan, pendukungnya melimpah dan dampak positifnya dapat dilihat dari aspek sosial ekonomi. Khususnya bagi mereka yang secara langsung terkait dengan produk budaya ini.
Pengetengahan musik dangdut dalam tulisan ini kiranya dapat mengubah perhatian dan minat para pakar serta pengamat musik untuk meneliti lebih jauh sehingga dapat menempatkan musik dangdut yang ada pada taraf perkembangannya saat ini, sesuai dengan kenyataan yang ada. Bahkan tidak menutup kemungkinan melalui tayangan Salam Dangdut MTV, ia lebih diperkenalkan kepada dunia internasional; walaupun masih terbatas pada kalangan kaum muda.
Dengan demikian penilaian yang menganggap musik dangdut adalah musik “kampungan” ataupun musik orang yang tidak terpelajar, lama kelamaan menjadi kabur. Musik dangdut saat ini telah mempunyai dukungan yang mapan dan dapat diartikan sebagai mass music atau musik yang digemari orang banyak yang berbeda dari musik rakyat atau folk music yang masih mengandung unsur-unsur tradisional.
Keadaan yang menunjukkan bahwa musik dangdut dapat diterima oleh orang banyak, bahkan sekarang ini oleh bagian terbesar penduduk Indonesia adalah suatu gejala dan kenyataan yang tidak mungkin kita ingkari. Dengan demikian semua langkah yang kita ambil untuk musik dangdut tentulah berdasarkan kenyataan yang ada, dimulai dari kenyataan dan kita semua dapat menerimanya sebagai kenyataan, sehingga dapat diharapkan tidak akan ada lagi rasa ragu, rasa rendah diri, rasa takut dinilai “kampungan” dan sebagainya dalam usaha untuk mencari identitas musik dangdut.
Di samping penelitian, usaha peningkatannya pun perlu terus dilakukan. Rhoma Irama telah berhasil membuktikan kemampuan musik dangdut dalam meningatkan diri setaraf dengan jenis musik pop yang lain dengan merintis pencampuran pengaruh berbagai beat Barat, seperti rock dan jazz ke dalam ritme dangdut.

SARAN

Sebagai generasi muda, khususnya pemuda bangsa Indonesia, hendaklah kita mengetahui dan memahami tentang music tradisional yang berasal dari Negara tanah air kita ini. Karena music sangatlah penting untuk kehidupan kita. Musik tradisional adalah musik yang hidup di masyarakat secara turun temurun, dipertahankan sebagai sarana hiburan. Tiga komponen yang saling mempengaruhi di antaranya Seniman, musik itu sendiri dan masyarakat penikmatnya


DAFTAR PUSTAKA


2 komentar: